Harga Pangan Naik, Daya Beli Petani dan Neayan Capai 104,46 Persen

  • Whatsapp
Iustasi Petani

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan daya beli mayoritas petani dan nelayan meningkat karena kenaikan harga bahan pangan pada Desember 2019. Hal ini tercermin dari tingkat Nilai Tukar Petani (NTP).

Kepala BPS Suhariyanto mencatat indeks NTP nasional naik 0,35 persen dari 104,1 pada November 2019 menjadi 104,46 pada bulan lalu. Peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan indeks harga yang diterima oleh petani lebih tinggi dari indeks harga yang dibayarkan.

Bacaan Lainnya

banner 300250

Tercatat, indeks harga yang diterima petani meningkat 0,59 persen menjadi 143,56. Di sisi lain, indeks harga yang dibayarkan petani hanya naik 0,24 persen menjadi 137,42.

“Sementara pada Desember 2019, inflasi pedesaan di Indonesia sebesar 0,28 persen yang disebabkan indeks di seluruh kelompok penyusunan indeks konsumsi rumah tangga,” katanya di Kantor BPS, Kamis (2/1).
Secara rinci, peningkatan kemampuan daya beli petani dirasakan oleh sektor tanaman pangan sebesar 0,16 persen dari 107,99 menjadi 108,17. Peningkatan terjadi karena indeks harga yang diterima naik 0,44 persen, sementara yang dibayar naik 0,28 persen.

“Kenaikan terjadi karena pengaruh kenaikan harga gabah dan kacang tanah,” ucapnya.

Kemudian, peningkatan daya beli juga dirasakan oleh petani perkebunan rakyat mencapai 1,61 persen dari 94,34 menjadi 95,86. Indeks harga yang diterima meningkat hingga 1,74 persen, sedangkan harga yang dibayarkan cuma naik 0,12 persen.

“Ini terpengaruh harga kelapa sawit dan tembakau yang naik,” imbuhnya.

Daya beli juga meningkat untuk kalangan nelayan perikanan tangkap dan budidaya, masing-masing 0,54 persen dan 0,33 persen. Tercatat, indeks harga yang diterima masing-masing naik 0,61 persen dan persen.

Sementara harga yang dibayar hanya naik tipis, yaitu masing-masing 0,06 persen dan 0,18 persen. Kendati begitu, ada pula kalangan petani yang justru menurun tingkat daya belinya.

Misalnya, petani di sektor hortikultura minus 0,24 persen dari 103,92 menjadi 103,68. Ini terjadi karena indeks harga yang diterima cuma naik 0,05 persen, padahal harga yang harus dibayarkan meroket hingga 0,29 persen. “Peningkatan indeks tipis karena ada penurunan harga cabai merah dan cabai rawit yang menyumbang deflasi,” tuturnya.

Penurunan daya beli juga terjadi pada peternak, yaitu turun 0,04 persen dari bulan lalu. Penurunan terjadi karena indeks harga yang diterima meningkat 0,21 persen, padahal harga yang dibayarkan mencapai 0,26 persen.

Sumber : CN Indonesia

 94 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

banner 468x60