Gunung Waras Gelap Gulita, Tokoh Pemuda Soroti Pelaksanaan Proyek Listrik

  • Whatsapp

 

PAKUAN RATU – Pemadaman listrik di Kampung Gunung Waras, Kecamatan Pakuan Ratu, Kabupaten Way Kanan, sepertinya terus berlarut.

Bacaan Lainnya

banner 300250

Diketahui, pemadaman listrik di Kampung Gunung Waras telah terjadi sejak 7 hari lalu. Meski kemarin (13/2) sempat menyala beberapa jam, namun kembali terjadi pemadaman hingga petang ini, Jum’at (14/2/2020).

Mulanya, pemadaman listrik terjadi lantaran adanya perbaikan arus. Setelah perbaikan selesai, ditambah lagi terdapat tiang listrik yang berada ditengah-tengah aliran Sungai Way Kanan ambruk.

Kondisi kabel listrik akibat tiang ambruk di jalur Sungai Way Kanan, Kampung Gunung Waras. (Erw)

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Kampung Gunung Waras baru di aliri listrik pada 2019 lalu. Lantaran adanya aliran sungai yang lebarnya mencapai sekitar 100 meter dimungkinkan untuk memasang tiang listrik ditengah-tengah sungai tersebut.

Kala itu, pemasangan tiang listrik dilakukan saat musim panas. Sehingga, terdapat pasir timbul yang kemudian ditancapkan tiang listrik. Namun, ketika masuki musim penghujan, derasnya aliran air tak mampu tertahan oleh tiang, sehingga tiang listrik itu roboh.

Menanggapi itu, tokoh pemuda dari Kecamatan Pakuan Ratu, Adiwijaya menilai, pengerjaan proyek listrik di Kampung Gunung Waras diduga asal-asalan. Menurutnya, pihak pelaksana seraya terburu-buru dalam pengerjaan sehingga hasilnya tak maksimal.

“Kejanggalan yang kami lihat, tiang listrik dipasang diatas pasir dan tanah berlumpur. Kenapa kok tidak dicor semen terlebih dahulu. Program ini kok kayak asal-asalan dan terkesan buru-buru,” ketusnya seraya mengkritik kinerja pihak pelaksana proyek listrik di Kampung Gunung Waras.

Adi yang merupakan jebolan Fakultas Hukum, Universitas Bandar Lampung (UBL) ini juga menegaskan, bahwa dalam UU No 30 th 2009 tentang Ketenagalistrikan ada hak dan kewajiban konsumen.

Menurut Adi, hak konsumen tersebut salah satunya adalah mendapat pelayanan yang baik, dan memperoleh ganti rugi jika pemadaman listrik akibat kesalahan dari pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik.

“Artinya sangat jelas, berdasarkan ketentuan Pasal 29 ini pemegang izin usah telah melakukan kesalahan apalagi ini sudah 8 hari pemadaman di sana. Kasihan masyarakat disana, padahal mereka semua tertib bayar, mana letak keadilannya,” tegas Adi, dengan mimik seolah berkeluh.

Selanjutnya, mewakili masyarakat Adi berharap, agar masalah ini segera dapat teratasi. Ia juga menyinggung, kepada wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) setempat agar dapat menjadi atensi untuk diperjuangkan di fungsi legislatif.

“Saya harap, pejabat yang berwenang dan wakil rakyat dapat mendengar ini. Kasihan masyarakat, kami sudah seminggu lebih listriknya padam dan pemegang izin usaha harus bertanggung jawab atas kerugian yang diderita,” tutupnya. (Erw/Doy)

 405 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

banner 468x60