Cari Istrinya Sampai Kalianda, Cerita Pilu Andrian Gunawan

  • Whatsapp

SEORANG laki-laki, bersama anak perempuannya yang saat itu berpenampilan biasa saja. Tidak mewah, tidak lusuh, tapi mimik wajahnya seperti menggambarkan dua insan tuhan itu tengah mengemban beban perasaan yang amat berat.

Laki-laki itu adalah Andrian Gunawan, yang saat ini usianya sekitar 36 tahun dan anak perempuannya berusia 3 tahun. Sudah selama 2 bulan terakhir, mereka berdua berusaha mencari keberadaan anggota keluarga kecilnya yang entah pergi kemana. Ya, dia adalah ibu kandung dari anak perempuan yang bersamanya itu.

Bacaan Lainnya

banner 300250

Penulis : Dony Armadi
Sekretaris Komunitas Jurnalis Harian Lampung Selatan (KJHLS)


Siang itu, Selasa 13 Mei 2020, Adrian Gunawan dan anak perempuannya, berusaha memendam rasa malu demi mencari keberadaan istri tercintanya. Ia mengahampiri Sekretariat Komunitas Jurnalis Harian Lampung Selatan (KJHLS) dari pintu belakang.

Awalnya ia menyapa staff kantor yang tengah duduk disamping pintu belakang. Ia bertanya, bisakah untuk bercerita mengenai masalah dan beban yang diarasakannya saat itu. “Mas, ini kantor jurnalis, yang nerbitin koran ya. Bisa tidak saya meminta tolong untuk di eksposkan, saya sedang mencari istri saya. Ini anaknya, seperti tidak terurus,” Kata Andrian, menegur staff kantor KJHLS.

Lantaran staff kantor ini bingung, kemudian ia memanggilku yang saat itu aku berada diruang tamu kantor. Bahwa, ada seorang laki-laki dengan anak perempuannya yang menginginkan untuk ceritanya di publikasikan. “Bang, itu ada orang, ditinggal kabur istrinya, minta dikoranin,” Kata staf kantorku itu, yang meninggalkan ayah dan anak tersebut didepan pintu belakang kantor.

Kemudian aku kebelakang dan menghampiri mereka, lalu menyuruh mereka untuk masuk melalui pintu depan sebagai tamu. Kala itu, aku bersama beberapa teman seprofesi yang biasa disebut sebagai jurnalis atau wartawan ataupun penulis. Andrian Gunawan duduk memangku anaknya, dan meletakkan tas ransel ke lantai yang sedikit kotor. Tanpa basa-basi ia langsung mengutarakan isi hatinya, seolah bercerita dengan teman dekat bahkan layaknya saudara.

Cerita Andrian dimulai. Selama 21 tahun, Andrian telah menjalani rumah tangga dengan istri tercintanya yaitu Yuni Irawati yang usianya 4 tahun lebih tua darinya. Bermula dari pacaran tahun 1998, mereka bertemu disebuah mall di Jakarta.
“Dulu Yuni seorang SPG di mall. Saya bersama teman-teman kerja saya sering main ke mall itu. Lama-lama kami saling berkenalan, dan tidak lama kami berpacaran,” Kata Andrian.

Setahun mereka pacaran, kemudian mereka merencanakan pernikahan. Namun, dari rencana baik itu mereka harus menentang larangan dari kedua belah pihak keluarga. Sebab, mereka berbeda keyakinan. Andrian adalah umat katolik, sementara Yuni adalah muslim.

“Kami nekat berterus terang kepada keluarga, meskipun sulit. Tapi, kami yakin ada jalan keluar ketika rencana ini baik,” terusnya.

Kendati demikian, rasa cinta mendorong semangat mereka berdua, tak ada kata mundur atau pesimis bagi mereka untuk terus berjuang demi cintanya. Berbagai upaya mereka lakukan untuk meyakinkan keluarga. Setahun kemudian yakni tahun 1999, saat itu orang tua Andrian menyetujui rencana pernikahan mereka, dengan sebuah catatan.
“Kalau kami nekat mau menikah, harus menikah secara umat katolik di gereja,” lanjut Andrian dengan sesekali mengusap keringat dikeningnya.

Lanjut cerita, melihat kesempatan itu, Andrian dan Yuni kemudian bergegas menyiapkan segala sesuatu untuk menjalin kasih rumah tangga melalui tata cara umat katolik. Saat itu, Yuni enggan beralih keyakinan. Ia tetap teguh dengan pendiriannya sebagai umat muslim, meski menikah dengan cara katolik.

Andrian adalah orang yang dilahirkan di daerah Pontianak, Kalimantan Barat, sementara Yuni berkelahiran di Tangerang Banten. Lantaran sebuah komitmen, mereka akhirnya menikah di Pontianak, sesuai syarat yang diberikan oleh ayah Andrian. Beberapa tahun mereka menjalin rumah tangga dan tinggal di Pontianak.

“Saat tinggal di Pontianak, terbilang biasa saja. Hanya terkadang ribut kecil. Yah, biasalah bumbu rumah tangga. Apalagi masih baru,” kata Andrian.

Tapi, ada yang menjadi catatan buruk bagi Andrian. Setiap kali mereka cek-cok keluarga, Yuni selalu kabur, lama ataupun sebentar. Bahkan, saat ribut keluarga itu berlangsung Yuni kerap main tangan terhadap Andiran, memukul, melempar dan lainnya. Meski begitu, yang kabur dari rumah adalah Yuni, bukan Andrian.

Setalah beberapa tahun, mereka mengambil keputusan untuk pindah ke Ibu Kota Jakarta. Merantau, untuk berjuang demi masa depan mereka. Alhasil, di Jakarta Andrian mendapat pekerjaan sebagai sorang supir ekspedisi dan Yuni sebagai ibu rumah tangga. Selama belasan tahun mereka berumahtangga itu, tuhan masih belum mempercayai mereka untuk dititipkan momongan. “Dua kali hamil, dua kali juga Yuni keguguran,” katanya sambil menghembus nafas sedikit lebih dalam.

Hingga akhirnya, pada tahun 2015, mereka mendaptkan rizky yang nilainya tak dapat dihitung dengan materi. Yuni diberi kepercayaan untuk mengandung seorang bayi perempuan dan merawatnya hingga melahirkan di tahun 2016. Dari situ, semangat Andrian lebih keras untuk dua perempuan prioritasnya itu.

Lalu, pada Tahun 2018, pikiran nekat atau adanya sebuah hidayah, tiba-tiba Andrian mengambil sebuah keputusan yang sangat beresiko bagi dirinya. Ia memutuskan untuk bermualaf, pindah keyakinan menjadi umat muslim. Mulai saat itu, cerita demi cerita pedih dimulai.

“Saya juga tidak tahu, kenapa saya nekat bermualaf untuk pindah ke agama Islam. Tapi, dari niat memang saya rasakan begitu besar,” Katanya lagi.

Setelah mengambil keputusan tersebut, Andrian layaknya dibuang oleh keluarga besarnya. Bahkan, foto Andrian telah diletakkan di guci abu yang menandakan bahwa Andrian dianggap sudah meninggal oleh keluarga besarnya. Karenanya, kalaupun Andiran pulang ke Pontianak, ia tidak akan diterima oleh keluarga besarnya. Andrian nekat, apapun resiko itu, meski sudah tergambarkan bahkan sudah terjadi ia tak merubah keputusannya untuk menjadi umat muslim dan beribadah secara Islam.

Ditambah lagi, mereka masih sering cek-cok, ribut kecil, hingga akhirnya terjadilah ribut besar yang mengakibatkan Yuni kabur dari kontrakannya di Jakarta seorang diri, meninggalkan anaknya yang tengah tertidur.
“Saat itu, permasalahannya spele tapi akibatnya besar. Dia pergi, hanya membawa pakaian saja. Anak masih tidur,” Imbuh pria berambut terbelah itu.

Beberapa hari, Andrian menunggu, ternyata Yuni tak lagi pulang kerumah kontrakan. Karena itu, Andrian terpaksa membawa anak perempuannya setiap kali bekerja. Meski penuh resiko membawa anaknya untuk menyusuri aspal Jawa-Sumatera, tapi itu lebih baik ketimbang meninggalkan anak atau menitipkan anak baru berusia 3 tahun kepada orang lain.

Tak lama, perusahaan yang mengerjakan Andrian bangkrut. Akhirnya, dengan alasan efisinesi keuangan perusahaan, Andrian mendaptkan PHK dari perusahaan ekspedisi itu. “Saya dipecat, sampai sekarang blum dapet kerjaan lagi,” tuturnya.

Andrian mulai merasakan, betapa pedih rumah tangga itu. Ia mulai bingung, mau seperti apa menjalani kehidupan, tanpa istri, tanpa orang tua, tanpa saudara. Sementara, ia juga harus merawat anak perempuannya yang masih balita, memperhatikan kesehatan dan pertumbuhannya serta pendidikan baginya. Namun disisi lain, Andrian tak memiliki pekerjaan.

“Bingung, saya selalu membawa anaku. Mungkin orang juga sukar untuk mempekerjakan aku yang selalu membawa anak kecil,”keluhnya menatap lantai, dengan dagu tertunduk sedih.

Tak lama, ia mendengar kabar dari rekan sejawatnya, bahwa istrinya ada di Bandar Lampung. Mendengar kabar itu, Andrian langsung bergegas membawa tas ransel dan menggendong anak perempuannya untuk mencari ibunya di Bandar Lampung. Andrian tiba di Panjang, kemudian beberapa kali mencoba menghubungi nomor ponsel istrinya Yuni. Tak lama, nomornya dalam kondisi aktif dan diangkat oleh Yuni.

Dalam percakapan telephon itu, Andrian meminta istrinya untuk sejenak menemui anaknya yang hampir setiap hari menangis memanggil-manggil namanya. “Saya bilang, kalau mau ketemu anaknya, saya sekarang ada di Panjang. Sekalian mau cari kerja juga disini. Iya, kerjaan supir,” Andrian mengalihkan, berusaha menghindari ratapan sedih.

Menerima telepon dari Andrian, Yuni kemudian menemui Andrian dan anaknya di Panjang. Saat pertemuan itu, Yuni menangis dan meminta maaf kepada Andiran dan anaknya. Ia berjanji tidak akan meninggalkan mereka meski dalam kondisi apapun. Ia tak sampai hati, melihat Andrian mengurus anak mereka seorang diri. Bahkan, mengajak anak untuk bekerja. Yuni menangis, mengajak Andrian memperbaiki hubungan mereka, dan kembali menjalin rumah tangga sampai akhir hayat.

Mendengar kalimat-kalimat itu, Andrian menghapus air matanya yang berasa lega didalam hatinya. Lalu mereka menyewa sebuah kamar hotel di daerah Panjang, untuk beristirahat. Andrian tertidur, meninggalkan anak perempuannya bersama ibu kandungnya yang tengah bercana gurau diatas kasur tempat tidur.

“Aku berusaha selalu seperti itu. Sejak dulu, setiap ada cek-cok, aku selalu berusaha memaafkan dan melupakan masalah. Aku hanya berusaha sabar, semoga ini terakhir dan kami bisa berkumpul, membina keluarga yang baik,” kata Andiran seolah berharap.

Namun, setelah beberapa jam kemudian, saat Andrian tengah tidur, tiba-tiba ia terbangun dan hanya melihat anaknya seorang diri. Ia kaget, melihat keluar hotel dan bertanya kepada orang disekitarnya. Ternyata, istrinya kabur lagi, pergi meninggalkan mereka. Bahkan, persediaan uang beserta handpon dan dompet Andrian ikut dibawa oleh Yuni.

“Aku kaget. Aku tak masalah dengan yang ia bawa, tapi kenapa seperti ini. Baru berapa jam yang lalu dia mengucapkan kalimat yang membuat aku lega, tapi sesaat kemudian dia pergi lagi,” sedih Andrian yang kembali mengusap keringat dikeningnya.

Baru saja, air mata Andrian disapu lantaran merasakan kelegaan, air matanya keluar lagi dan membasahi pelukan kepada anak perempuannya. “Entah apa yang dipikirkan Yuni,” katanya seraya heran.

Tanpa persediaan uang, tanpa identitas, Andrian dan anaknya keluar dari hotel dan menyusuri jalan menuju Kalianda, Lampung Selatan. Berhari-hari mereka berjalan kaki yang tak tau mau kemana dan dimana mereka harus berhenti.

Sedikit menyingkat cerita, Andrian sempat ngobrol dengan sesorang yang baru ia kenal di sebuah warung. Lalu, Andrian sedikit bercerita tentang keluh kesahnya. Dengan membunuh rasa malu, Andrian meminta tolong dengan orang yang baru saja ia kenal tersebut untuk menghubungi nomor ponsel istrinya Yuni. Saat itu, nomornya masih aktif dan diangkat oleh Yuni.

“Sebelumnya, saya juga pernah mendengar kabar. Istri saya sering ketempat ramai yang dipenuhi musik keras. Untuk itu, saya minta tolong ke orang tersebut untuk berpura-pura pernah bertemu dan menanyakan kabar,” tambahnya.

“Telpon itu diangkat oleh teman Yuni. Teman saya ini bilang, kalau dia pernah ketemu dengan Yuni di kafe, terus kalau mau ketemu lagi dimana, sekarang Yuni dimana,” ujar Andrian.

Teman Yuni itupun sontak menjawab. “Kita di Belakang Lapangan Sudimulyo, sini aja,” ketus suara di handpon itu, dengan iringan musik yang amat keras, kata Andrian.

Namun, Andrian tak begitu ambisi mencari istrinya yang dikabarkan tinggal di Sidomulyo, Lampung Selatan. Ia sementara itu, mengedepankan dimana mereka akan tinggal untuk istirahat anaknya.

“Akhirnya, singkat cerita lagi, aku dapet tempat tinggal di Rumah Makan Palapa. Alhamdulillah gak disuruh bayar. Sampai sekarang saya tinggal disitu,”lanjutnya.

Meski bisa beristirahat, namun masih ada kekhawatiran bagi Andrian. Ia sangat paham, bahwa anaknya harus selalu banyak minum. Kalau tidak ada air minum, anaknya akan selalu menangis hingga menemukan air minum. Sementara, dirinya tidak lagi memiliki persediaan uang.

“Akhirnya, saya di Kosan Palapa itu hanya ketika tidur saja. Setiap pagi saya keluar, ke Masjid Agung Kalianda. Disitu banyak air minum dan saya juga bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah,”katanya.

Dari sisi lain, yang membuat Andrian bersyukur, sekali, bibiknya Andrian yang di Pontianak mau berkomunikasi dengannya. Bibiknya itu, merupakan keluarga yang paling dekat dengan Andrian sejak kecil. “Bibik kirim uang. Bisa untuk beli susu anak. Tapi, itu juga tanpa sepengetahuan ayah saya. Kalau ketahuan, jelas bibik saya kena marah,”tambahnya.

Sudah beberapa hari mungkin beberapa minggu ini, Andrian dan anaknya selalu di Masjid Agung. Ketika siang, terkadang ia main ke bengkel, mencari teman untuk ngobrol hingga mengalihkan kepedihannya itu. Hingga menjelang magrib, ia dan anaknya kembali ke Masjid Agung Kalianda, untuk berbuka puasa dan sholat berjamaah.

“Setelah sholat magrib, saya sama anak jalan ke Masjid Bani Hasan untuk traweh. Karna di Masjid Agung tidak mengadakan traweh. Lalu setelah traweh, kami pulang ke kosan di Rumah Makan Palapa. Setiap hari begitu saja,”tuturnya.

Pernah sekali, saat Andrian berada di dalam Masjid Agung, anaknya tengah bengong di teras masjid. Saat ia hampiri, dan menanyakan kepada anakanya, Andrian terkejut. ” Kata anak saya, itu mamah manggil-manggil disana. Saya toleh, memang ada motor yang langsung jalan dan ngebut,” Kata Andrian penasaran.

Dari hari itu, Andrian tak ada pikiran untuk menginggalkan Kalianda, sebelum ia bertemu dengan istrinya. Ia berharap, istrinya Yuni dapat menemuinya di RM Palapa, atau di Masjid Agung Kalianda.

“Kalau ada yang kenal dengan nama itu, dan asal usulnya seperti yang saya ceritakan, saya harap disarankan untuk dapat menemui saya dan anak perempuannya ini. Saya akan teteap menunggu, sampai bertemu istri saya,” ujarnya berteguh.

Kemudian, setelah ia bertemu dengan istrinya, sebisa mungkin ia akan memperbaiki dan menuruti apa yang dikehendaki istrinya. Asal tidak lagi melihat anaknya jauh dari ibu kandungnya. “Setiap anak ini melihat seorang ibu-ibu, pasti dipanggil mamah. Saking dia kangen sama mamahnya,” Sebutnya.

“Saya masih sayang, saya juga masih cinta dengan istri saya. Kalau bisa diperbaiki, kita perbaiki lagi hubungan rumah tangga ini. Jika memang tidak, setidaknya saya mendapatkan kejelasan dari status rumahtangga. Apapun yang terjadi, saya akan berusaha terima dan berusaha ikhlas,” Tutup Andrian mengahiri ceritanya.

Usai bercerita, suara adzan dzuhur di Masjid Agung terdengar. Lalu, Andrian bergegas mengajak anaknya untuk segera ke Masjid melakukan ibadah sholat berjamaah. SEKIAN

 1,676 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

banner 468x60