Sempat Disoal Warga, Polemik Transfaransi DD Maja Akhirnya Meredam

  • Whatsapp

KALIANDA – Warga Desa Maja Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan (Lamsel) kembali mendatangi Balai Desa setempat. Hal itu, untuk mempertanyakan transparansi pengelolaan Dana Desa (DD) dan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), pagi tadi (3/6/2020).

Diketahui, sebelumnya sejumlah warga mendatangi Balai Desa untuk menuntut transfaransi pengelolaan anggaran DD, Bumdes dan Bantuan Bencana Alam, Kamis (28/5/2020) lalu. Namun sayangnya, meski telah diadakan musyawarah yang dihadiri Kades Maja, Safrian, belum putus.

Bacaan Lainnya

Penyebabnya, saat itu tidak dihadiri pihak Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan pengurus Bumdes Maja. Akhirnya, agenda musyawarah dijadwal ulang.

Dalam musyawarah kali kedua, Kades Maja Safrian memfasilitasi pertemuan dengan warga setempat. Pemerintah Desa (Pemdes) Maja juga menghadirkan perwakilan BPD dan pengurus Bumdes, untuk menjawab seluruh pertanyaan yang lontarkan warga yang ditengarai tidak transfaran.

Mad (35) selaku perwakilan warga kembali mempertanyakan tentang transparansi penggunaan DD periode tahun 2017, 2018, dan 2019 yang selama itu menimbulkan polemik ditengah masyarakat.

“Tolong jelaskan kepada kami transparansi pengelolaan dana desa oleh Pemerintah Desa dan Bumdes selama 3 tahun terakhir.” Tegasnya mengawali sesi tanya jawab.

“Tolong aparatur Desa juga jangan ikut mengerjakan proyek di lapangan, nanti siapa pula yang akan mengawasi hasil pekerjaanya? Tolong lah warga dilibatkan. Aparat dan pendamping Desa fokus mengontrol saja.” Lanjutnya.

Warga lain juga mempertanyakan, mengenai pengelolaan anggaran sebagai penyertaan modal Bumdes. “Lalu, bagaimana dengan pengelolaan dana desa oleh Bumdes?” tanya salah satu warga yang turut hadir.

“Terus kenapa mobil pick up Bumdes itu belum di tempeli stiker sampai sekarang?” tanya warga lagi.

Kades Safrian kemudian menjelaskan, dalam periode kepemimpinannya baru menggunakan desa untuk membeli 1 unit proyektor pada tahun 2017 dan pembangunan cor beton jalan desa sepanjang 700 meter di periode yang sama, senilai 377 juta yang dikerjakan oleh pihak ketiga melalui proses tender.

“Aparatur Desa yang turun mengerjakan proyek di lapangan sifatnya bila darurat saja, tapi ini masukan yang bagus. Kedepan kami akan lebih aktif lagi melibatkan masyarakat dalam proses pembangunan sehingga transparansi anggaran dan pengerjaan proyek bisa diawasi bersama-sama demi kemajuan Desa Maja.” Kata Kades Safrian.

Sementara, Nur Samsu selaku Ketua Bumdes kemudian menjelaskan, Awal terbentuk Bumdes Maja pada tahun 2017 diberi modal dari dana desa sebesar Rp.78.187.430.  Kemudian, pada tahun 2018 diberikan penyertaan modal Rp.75.486.987 dan pada tahun 2019 kembali diberikan modal sebesar Rp.42.653.809. Jadi, total modal yang diterima Bumdes sebesar Rp.196.301.417.

“Dana desa yang dikelola oleh Bumdes digunakan untuk belanja modal dan unit usaha. Seperti, sewa gedung kantor Bumdes 3 juta /tahun, belanja ATK (Alat Tulis Kantor, red) 500 ribu, meja kursi 1,5 juta,¬† 3 buah banner 300 ribu,” Bebernya.

Nur Syamsu juga merincikan, Bumdes juga membeli mobil operasional pick up grand max yang dibeli secara gadai senilai 20 juta. Selain itu, 2 unit pertamini manual 12 juta, 2 unit pertamini digital 15 juta, 50 tabung lpg 8 juta, modal warung desa 8,4 juta, usaha rongsokan 20 juta, usaha jual beli beras 10 juta, usaha konveksi 25 juta.

“Khusus unit usaha rongsokan dan jual beli beras merugi karena terdampak tsunami yang terjadi tahun 2018.” jelasnya lagi.

“Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan permohonan ma’af karena mobil pick up milik Bumdes belum sempat ditempeli stiker dan dari pertemuan ini saya jadikam sebagai kritik serta masukan untuk menjadikan Bumdes lebih baik lagi kedepan.” tutup Nur Samsu di akhir pembicaraan.

Berdasarkan pantauan, musyawarah Pemdes Maja dengan masyarakat setempat nampak berlangsung konstruktif. Masyarakat juga nampak menerima penjelasa  dari beberapa pihak terkait. (Han)

 926 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini