Terbitkan SE Larangan Sholat Ied di Masjid, Masyarakat Sebut Bupati Tanggamus Lebay

  • Whatsapp

TANGGAMUS – Terbitnya Surat Edaran (SE) Bupati Tanggamus Nomor 061.2/2433/44/2021 tanggal 24 April 2021 tentang pembatasan kegiatan keluar daerah atau mudik dan pelaksanaan ibadah keagamaan serta pengaktifan posko covid 19 tingkat pekon / kelurahan dalam rangka pencegahan penyebaran dan penanganan Corona virus disease ( covid 19 ) di kabupaten setempat, sepertinya justru menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat.

Utamanya, yakni dalam poin nomor 2 huruf a yang berbunyi : Shalat idul fitri pada tanggal 1 Syawal 1442 Hijriah tidak dilaksanakan secara berjamaah di rumah ibadah atau di tanah lapang. Masyarakat dapat melaksanakan shalat Idul Fitri di rumah masing-masing.

Bacaan Lainnya

Masyarakat menilai, SE tersebut terlalu berlebihan untuk diterapkan di Kabupaten Tanggamus. Mengingat, Kabupaten Bumi Begawi Jejama saat ini berada pada zona kuning, penyebaran Covid-19.

Salah seorang tokoh masyarakat di kabupaten ini, Rampal secara terang-terangan menyatakan, pihaknya tak setuju dengan SE yang telah diterbitkan beberapa waktu lalu itu. Terutama pada perihal tidak di perbolehkannya pelaksanaan sholat Idhul Fitri di dalam masjid maupun di ruangan terbuka.

Ia juga menyebutkan, Bupati Tanggamus terlalu lebay dalam menyikapi persolan ini, sehingga membuat kebijakan yang tidak pro terhadap masyarakat. Terutama umat muslim di Kabupaten Tanggamus.

“Kenapa akidah agama di bawa bawa sih?kita boleh waspada, toh covid-19 bukan barang baru bagi kita, kita harus seperti apa saya rasa masyarakat sudah faham semua. Tapi ini kok jadi gini amat sholat Idhul Fitri yang hanya setahun sekali saja di larang di lakukan secara berjamaah. Menurut saya ini aneh,”ketusnya seraya heran, Minggu (9/5/2021).

Ia mencontohkan, di pasar dan di tempat-tempat keramaian lainnya justru tidak dilakukan tindakan yang tegas. Padahal, di lokasi-lokasi tersebut adalah tempat berkerumunnya masyarakat yang bahkan sangat jarang menerapkan protokol kesehatan. Mulai dari jaga jarak, menggunakan masker dan yang lainnya.

“Mereka saling dekat, bahkan ada yang saling bersentuhan dan itu waktu nya lama. Lah, kalau sholat kan sebentar, sebelum sholat di beri pemberitahuan agar tidak saling bersalaman setelah sholat selesai. Apakah kita yakin tahun depan masih bisa melaksanakan sholat Idhul Fitri?
Kalau soal pasar, pasti oleh bupati akan di jawab itu adalah nadi ekonomi masyarakat.
Ibadah itu bukan lagi nadi ekonomi, tapi pertanggungjawaban kita kepada Tuhan,”ujarnya blak-blakan.

Menurut Rampal yang juga diaminkan masyarakat lainnya, sepatutnya Pemerintah Kabupaten Tanggamus terlebih dahulu melaksanakan musyawarah sebelum menerbitkan SE atau kebijakan yang berkenaan dengan regulasi pembatasan masyarakat.

“Solusi itu akan ada jika kita mau bermusyawarah. Pertanyaannya, apakah sudah di musyawarahkan keputusan ini dengan melibatkan peran MUI, alim ulama, perwakilan ormas keagamaan, atau perwakilan masyarakat, Jika sudah, kenapa mereka tidak bisa menguatkan tentang sholat Idhul Fitri berjamaah dan langkah apa yang harus di lakukan. Atau suara mereka tidak di dengar oleh pemerintah,”sebutnya penasaran.

“Kalau seandainya sholat Idhul Fitrinya di rumah, tidak bisa berceramah hukumnya gimana? Terus ujung-ujungnya masyarakat bakal membentuk kelompok kecil, untuk melakukan sholat berjamaah juga. Yang lebih parah lagi, gara-gara gak boleh sholat Idhul Fitri berjamaah, pada gak mau sholat. Lah, dosanya siapa yang nanggung, niat awal mau sholat di larang, apa dosanya di tanggung oleh Bupati,”imbuhnya, di iyakan rekan lainnya.

Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, gugus tugas Covid-19 Provinsi Lampung (26 April – 2 Mei 2021) menyatakan bahwa tanggamus berada pada status zona kuning. Semestinya, masih bisa melakukan kegiatan sholat Idhul Fitri seperti anjuran Kemenag Lampung.

“Bahwa sebenarnya masih boleh melakukan sholat Idhul Fitri di masjid/lapangan dengan menerapkan protokol kesehatan untuk zona hijau dan kuning. Ini berdasarkan penetapan¬† kepala kanwil Kemenag Lampung.

“Mau sampai kapan kita bisa melakukan adaptasi kebiasaan baru, kalau kita selalu di hantui rasa takut yang berlebihan. Saat ini lah adaptasi kebiasaan baru di terapkan dalam kehidupan sehari-hari,” Tutupnya .( AK )

 561 kali dilihat,  6 kali dilihat hari ini