Pembangunan Gapura Perbatasan Tanggamus Belum Terwujud, Penting Kah ?

  • Whatsapp

Kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Tanggamus periode 2018-2023, Dewi Handajani dan Am Safi’i, sepertinya sudah layak untuk dievaluasi rakyat.

_____________________________________________

Bacaan Lainnya

Opini Oleh : Aang Kurnaedi
Tokoh Pemuda Kabupaten Tanggamus

_____________________________________________

Melalui tulisan ini, saya mencoba mengeksplor realisasi program Bupati dan Wakil Bupati Tanggamus sejak mereka dilantik pada 2018 lalu.

Terutamanya, perbandingan antara realisasi program pembangunan dan janji mereka pada saat masa kampanye empat tahun lalu, hingga kepemimpinan mereka selama lebih dari setengah periode ini.

Saya sebagai masyarakat biasa yang berasal dari kalangan pemuda, tentu saja pandangan subjekif yang akan saya tuliskan. Bukan berdasarkan data atau catatan program Pemerintah Kabupaten Tanggamus. Melainkan, berdasarkan fakta di lapangan dan dari kacamata rakyat kalangan bawah.

Pada saat masa kampanye di Pilkada Tanggamus lalu, pasangan Dewi Handajani dan AM Safi’i gencar mensosialisasikan 55 program andalannya.

Sekilas yang akan saya bahas, adalah salah satunya saja. Untuk yang lainnya, mungkin masyarakat lain bisa menjabarkan dan menerjemahkannya.

Diantara ke-55 program tersebut, salah satunya yakni tentang pembangunan gapura perbatasan kabupaten. Dimana, program ini masuk dalam draft program andalan yang tertera pada urutan ke-44, yang hingga tahun 2021 ini belum juga terealisasi.

Berdasarkan fakta dilapangan, bahwa untuk perbatasan antara Kabupaten Tanggamus dan Kabupaten Lampung Barat masih berupa patok yang tingginya tidak lebih dari 1 meter.

Lokasinya, berada di atas perbukitan yang bisa jadi jarang di sentuh manusia. Teritorialnya, tepat berada di Dusun Batu Tangkup Air Napalan, Desa Sirna Galih,  Kecamatan Ulu Belu.

Sementara, untuk sisi sebelah timur,  berbatasan dengan Kabupaten Pringsewu yang tepat berada di Kecamatan Pugung.

Penting atau tidak pembangunan gapura perbatasan kabupaten ini ?

Menurut saya, tentulah penting. Sebab, gapura adalah merupakan pintu gerbang sebuah kabupaten. Dari gapura, juga bisa menjadi cerminan kinerja pemerintah. Bahkan, bisa juga menjadi simbol potensi daerah, baik secara adat atau budaya.

Tak usah jauh-jauh, berefrensi saja dari Kabupaten Pringsewu. Gapura di kabupaten ini bahkan menjadi ciri khas hingga kanca nasional. Memiliki nilai budaya yang tinggi dan arti serta makna yang luas.

Sehingga, ketika para pelancong berwisata ke Kabupaten Pringsewu, sudah pasti gapura tersebut di sorot kamera mereka untuk diabadikan.

Dampak pastinya, para pelancong mengabadikan jepretan gambar tersebut dan memposing ke media sosial. Maka, secara tidak langsung mereka telah mempromosikan potensi Kabupaten Pringsewu. Selain itu, masyarakat bisa menerjemahkan sendiri lah.

Kembali ke laptop, gapura Kabupaten Tanggamus yang dulu selalu digembar-gemborkan belum juga terealisasi pembangunannya.

Kemungkinan besar, pembangunan di Kabupaten Tanggamus terorientasi pada skala prioritas. Akan didahulukan, yang menurut survey lebih dibutuhkan masyarakat. Pastinya, soal pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan program peningkatan ekonomi rakyat.

Lalu, apakah pembangunan gapura ini tidak dipandang prioritas ? Mungkin Bunda Dewi dan wakil, serta struktur kabinetnya saja yang tahu jawaban itu.

Tapi menurut saya, yang sekali lagi berpandangan subjektif tanpa dasar, banyak manfaat yang akan diperoleh dari pembangunan gapura perbatasan ini.

Diantaranya, seperti yang kita bahas mengenai Gapura Kabupaten Pringsewu diatas.

Setelah gapura perbatasan menjadi ikon, dan dioptimalisasi dengan infrastruktur pendukung serta terintegrasi dengan lokasi wisata, otomatis gapura ini banyak dikunjungi wisatawan.

Dari kunjungan wisatawan tersebut, dapat mengangkat ekonomi masyarakat disekitar perbatasan. Melalui usaha bidang kuliner, oleh-oleh khas Kabupaten Tanggamus, ataukah dari bisnis penginapan serta pekerja di lokasi wisata. Yang pasti, lebih banyak manfaat ketimbang mudaratnya.

Terlebih lagi, di Desa Sinar Galih merupakan salah satu penghasil kopi terbesar di daerah itu. Ditambah dengan pesona alam yang masih murni dan dapat memanjakan mata wisatawan dengan pemandangan dan kesejukan alamnya.

Tak lain diperbatasan sebelah timur, yang juga memiliki banyak potensi peningkatan perekonomian masyarakat, jika teralisasi pembangunan gapura perbatasan dan dioptimalisasikan.

Dalam masa pandemi, masyarakat perlu mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah. Utamanya, dalam pemulihan ekonomi.

Namun, selama masa pandemi, anggaran pendapatan dan bepanja daerah (APBD) Tanggamus juga terpengaruh. Yakni dengan adanya refokusing untuk plotingan anggaran penanggulangan Covid-19.

Tapi, jangan sampai juga, masa pandemi ini menjadi alasan untuk tidak merealisasikan janji politik. Sebab, konsekuensi soal realisasi atau tidaknya janji kampanye, akan berpengaruh kepada citra kepemimpinan.

Dampaknya, bisa jadi hal itu menjadi ciri khusus dari masayarakat untuk tidak melanjutkan kepemimpinannya ke periode berikutnya.

Sebenarnya, tak perlu ribet juga. Asal pemerintah kabupaten dapat transparan dan terbuka selebar-lebarnya kepada publik. Jika alasan tersebut masuk akal, mungkin masyarakat akan mengerti dan menghapuskan tanda khusus tersebut.

 142 kali dilihat,  6 kali dilihat hari ini