Rekonstruksi Pembunuhan Wanita Open BO di Kalianda, Ini Cerita Lengkapnya

  • Whatsapp

 

KALIANDA – Polres Lampung Selatan (Lamsel) melakukan rekonstruksi pembunuhan NA alias Sherly (30), yang diduga pekerja malam, di kontrakan sebayak, Desa Kedaton, Kecamatan Kalianda, Rabu (25/8/2021).

Bacaan Lainnya

Diketahui, Sherly merupakan warga asal Sumatera Selatan, yang sejak lama tinggal di Kalianda dengan berpindah-pindah kontrakan. Ia bekerja Open Boking Order (BO) melalui salah satu aplikasi prostitusi online.

Dalam rekonstruksi tersebut, terdapat 40 adegan, dimana pelaku RS (25) warga Jabung Lampung Timur (Lamtim) melalukan pembunuhan tersebut.

Berdasarkan pantauan dilokasi rekonstruksi, pelaku RS meminjam Hp rekannya untuk menggunakan aplikasi prostitusi online tersebut. Setelah janjian, pelaku langsung menuju kontrakan korbankorban.

Setelah masuk kekamar korban, pelaku mengeluarkan minuman keras yang sebelumnya dibawa menggunakan tas ransel milik pelaku, sambil mengobrol.

Usai melakukan beberapa percakapan, mereka kemudian saling melucuti pakaian. Lalu korban dan pelaku melakukan aksi pemanasan sebelum berhubungan badan.

Mulanya, alat kelamin pelaku berereksi sehingga dapat melakukan persetubuhan. Namun, setelah berganti gaya, alat kelamin pelaku lemas sehingga korban memutuskan untuk berhenti melakukan persetubuhan badan. Korban kemudian berdiri dan mengenakan pakaiannya, tak lain juga dilalukan pelaku.

Pelaku kemudian memberikan imbalan sejumlah uang dengan nominal yang tidak sesuai perjanjian lantaran pelaku tidak puas dan korban menerimanya.

Namun saat itu, pelaku kembali merayu korban untuk mencoba melakukan hubungan badan karna dirinya masih belum puas hingga ejakulasi. Sayangnya, korban menolak dengan nada bahasa yang keras.

Korban mengatakan bahwa tamunya malam itu bukan hanya RS, sehingga menyuruh RS untuk segera pergi meninggalkan kontrakan itu. Saat mengatakan hal tersebut, korban sembari mainan hp diatas kasur dan tidak mau melihat kearah pelaku.

Merasa kesal dengan prilaku korban, pelaku kemudian mengeluarkan sebilah pisau dari tas ransel miliknya lalu menyambitkan pisau kearah leher korban.

Setelahnya, pelaku kembali menusukkan pisau tersebut ke dada korban hingga beberapa kali. Sehingga membuat korban tergeletak berlumur darah. Saat aksi kejam itu dilakukan, pelaku juga sembari membekap mulut korban agar tak menimbulkan suara teriakan.

Meski sudah terbaring dan korban mengeluarkan suara seperti ngorok, pelaku kembali menusukan pisaunya untuk memastikan korban telah benar-benar tewas.

Kemudian, pelaku menyeret korban kearah kamar mandi dengan cara memasukan empat jari kemulut korban dan menarik korban sampai depan pintu kamar mandi.

Lalu pelaku ke kamar mandi, membasuh pisau dan badannya dari noda darah. Dan pelaku pergi membawa hp serta sepeda motor korban.

Diperjalanan pulang ke arah Ketapang, pelaku berhenti mengahapus aplikasi prostitusi yang digunakannya untuk janjian dengan korban dan melepas sim card hp korban.

Tiba di Sripendowo Ketapang, pelaku menitipkan hp rekannya yang digunakan untuk membuat janji dengan korban ke rekannya yang lain.

Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan ke arah Lamtim, namun sejenak berisitirahat di areal perkebunan. Ia melepaskan plat nomor dan lis sepeda motor korban, untuk menghilangkan ciri. Lalu ia menemui rekannya lagi untuk bercerita bahwa dirinya telah menghabisi korban.

Diketahui sebelumnya, Tiga tersangka pembunuhan wanita muda di indekos Desa Kedaton Kecamatan Kalianda Lampung Selatan, ditangkap.

Para tersangka pembunuhan wanita muda di Kalianda, Lampung Selatan ini ditangkap di tempat berbeda oleh tim Gabungan Resmob Polda Lampung, Tekab 308 Polres Lamspung Selatan, dan Unit Tekab Polsek Kalianda, Minggu (15/08/2021) dinihari.

Salah satu tersangka pembunuhan wanita muda di Kalianda, Lampung Selatan, ini ditembak karena melakukan perlawanan.

Kuasa hukum tersangka, Eko Umaidi, SH mengatakan, rekonstruksi yang dikakukan tim Inafis Polres Lamsel telah sesuai dengan kronologi yang diceritakan tersangka.

“Ya, berdasarkan pantauan kami, semua sudah sesuai dengan kronologi. Tinggal, kita menunggu perkembangan proses hukumnya,” Kata Eko yang juga sebagai Ketua LBH Albantani Lamsel. (Doy)

 1,221 kali dilihat,  8 kali dilihat hari ini