Dituduh Black Campaign, Ini Klarifikasi Dari Kubu Bang Nizwar

  • Whatsapp

BANDAR LAMPUNG – Black campaign terhadap bakal calon Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Lampung Hi. Nizwar, terus menyeruak.

Teranyar, Sekretaris PWI Lampung itu disebut-sebut siap menggelontorkan uang sebesar Rp500 ribu per suara. Isu kampanye hitam itu menyebar di Kabupaten Pesawaran.

Bacaan Lainnya

Hi. Syahroni Yusuf, juru bicara Nizwar sangat menyayangkan hal tersebut. “Ini adalah untuk kali sekian kami menerima kampanye hitam dari oknum tidak bertanggungjawab,” ujar pengurus Wartawan Seksi Olahraga (SIWO) PWI Lampung ini di Bandar Lampung, Senin (18/10/2021)

Sebelumnya juga menyebar pembusukan citra terhadap Nizwar. Mantan Pemimpin Redaksi Radar Lampung itu dikatakan otoriter dan sangat kaku. Bahkan, bekas General Manager Lampung NewsPaper ini dikatakan tak punya akses ke pusat.

“Telah banyak isu pembusukan terhadap bakal calon kami. Ini tidak baik dalam proses demokrasi lima tahunan untuk memilih ketua PWI,” kata Syahroni.
Padahal, Nizwar hingga kini menahan diri menanggapi segala pembusukan tersebut.

Namun, menurut Syahroni, kali ini ia perlu memberikan penjelasan agar para anggota PWI pemilik hak suara atau pemegang kartu tanda anggota (KTA) Biasa PWI di Provinsi Lampung mendapatkan pencerahan dan tidak termakan isu tak bertanggungjawab tersebut.

“Kali ini saya perlu meluruskannya walau saudara Nizwar selalu melarang kami menanggapi segala isu tidak baik tersebut. Sebab, ini sudah kelewatan dan sungguh terlalu,” tegas Syahroni .

Fotografer senior ini menjelaskan bahwa Nizwar sebenarnya tidak punya niatan untuk maju kontestasi Pemilihan Ketua PWI Lampung pada Konferensi Provinsi (Konferprov) PWI Lampung yang direncanakan awal Desember 2021 mendatang. Namun, akhirnya ia mau menimbang pemintaan sejumlah anggota senior dan anggota milenial pasca perhelatan Hari Pers Nasional (HPN) secara virtual pasa 9 Februari lalu.

“Keputusan mau maju pencalonan baru ia sampaikan usai gelaran Uji Kompetensi Wartawan (UKW) oleh PWI Lampung pada tanggal 26 – 27 Maret. Namun, ia berharap agar dapat bersabar karena terlebih dahulu akan meminta doa restu dari Ketu PWI Lampung Kiyai Supriyadi Alfian. Kami memahami itu, karena kami mengenal Nizwar sebagai pribadi yang beretika,” jelas Syahroni yang telah menjadi sahabat Nizwar sejak 21 tahun silam.

Sehari berselang, tepatnya 28 Maret 2021, Nizwar menyampaikan niatannya kepasa Bang Yadi — sapaan akrab ketua PWI — di Kabupaten Pesisir Barat. Waktu itu, ketua PWI dan rombongan bermalam di Pesisir Barat karena keesokannya pelaksanaan Konferensi Kabupaten (Konferkab) PWI Pesisir Barat.

“Usai santap malam, Nizwar menyampaikannya langsung dan disambut baik oleh Kiyai Yadi. Nizwar juga menyampaikan akan berkomitmen tetap menjalankan tugas-tugas sebagai sekretaris PWI dengan baik,” terang Syahroni.

Bahkan, sejak saat itu Nizwar tidak pernah menyinggung soal pencalonannya. Ia telah menjalankan program – program kerja PWI, termasuk 10 konferrensi kabupaten/kota yang berlangsung tahun ini. Terakhir Konferkab PWI Pringsewu pada tanggal 27 September lalu.

“Itu adalah sebagai bukti ia sangat mengedepankan etika. Sebab, ia selalu berujar akan tetap takzim dengan Kiyai Yadi dan berkomitmen menjalankan semua program kerja PWI,” sambung Syahroni.

Terbukti, Nizwar baru menyampaikan secara terbuka kepastiannya maju pencalonan pada tanggal 29 September 2021. Halnitu karena program kerja PWI tinggal menyelenggarakan Pekan Olahraga (POR) SIWO pada Oktober idan mengikuti Pra Porwanas (Pekan Olahraga Wartawan Nasional) pada November mendatang.

“Dan lagi, masa bakti Kepengurusan PWI Lampung periode 2016 – 2021 tersisa dua bulan. Nizwar melakukan deklarasi untuk sekaligus melakukan sosialisasi dengan melakukan silaturahmi ke pengurus PWI kabupaten/kota. Tahap sosialisasinya sudah menyasar sembilan daerah dan masih terus berjalan,” ujar Syahroni.

Dari sembilan daerah yang telah dikunjungi, lanjut Syahroni, terungkap jelas pembusukan yang dilakukan terhadap Nizwar. Namun, ia tetap santun dan berlapang dada menyikapinya.

“Kandidat kami disebutkan otoriter dan tak punya akses ke pusat. Padahal, kandidat kami tercatat sebagai asesor UKW. Untuk menjadi asesor tidak lah mudah, harus lolos assesment yang didalamnya juga ada uji kejiwaan dan psikologi. Nizwar telah menjadi asesor sejak tahun 2011 hingga kini. Artinya ia terus menjalin hubungan dengan para senior termasuk Ketua Umum PWI Atal Sembiring Depari,” terang Syahroni.

Karena itu, Syahroni mengajak para pihak untuk berdemokrasi dengan baik, menjunjung semangat kebersamaan dan persatuan organisasi. “Bukankah visi dan misi kita sama, bagaimana merawat, menjaga dan memberdayakan PWI agar semakin baik dan bermanfaat untuk khalayak. Apalagi PWI merupakan organisasi profesi tertua, seharusnya lebih dewasa dalam proses demokrasinya. Mari kita menjaga martabat dan marwah organisasi,” pungkas Syahroni. (Bal)